Jumat, 01 Mei 2015

KESADARAN DI AKHIR



Laila seolah tak pernah berhenti mendengar cacian dan makian dari orang-orang di sekitarnya, cacian dan makian yang ia terima sejak ia masuk SD hingga SMP. Mulut-mulut biadab orang-orang yang ada di sekitar Laila selalu mengoceh apabila melihat perilaku Laila yang membuat mereka tidak senang melihatnya. Kata pedagang, mengayuh sepeda, dan berkeliling bagaikan burung beo yang selalu mengoceh dan ocehannya selalu ia dengar.
Pagi itu, Laila mengantarkan undangan pernikahannya, ia mengantarkan undangan tersebut kepada teman-teman waktu ia SD, SMP, dan SMA. Di dalam hatinya, ia selalu  tertawa sambil berkata, "sesaat lagi aku akan memiliki suami yang bekerja di stasiun Televisi, setiap waktu suamiku akan ada di layar Televisi. Ha..ha..ha..", begitulah yang ada di dalam hati Laila.
"Anak tukang es krim akan menikah dengan orang yang bekerja di stasiun Televisi", begitu ocehan orang-orang setelah Laila membagikan undangan pernikahannya.
"Hey Laila, mana sepeda busukmu?", tanya salah seorang tetangganya.
"Aku tak mempunyai sepeda busuk", jawab Laila jujur.
"Halah, anak tukang es krim keliling saja belaga tak memiliki sepeda busuk. Kau kira bapakmu keliling mengendarai motor?", ejek orang tersebut.
Ketika Laila masih duduk di bangku SD, ia pernah bertanya pada ibunya.
"Bu, mengapa bapak menjadi tukang es keliling yang mengendarai sepeda busuk?", tanya Laila.
"Lho, memangnya kenapa nak? Apa ada yang dalah dengan pekerjaan bapakmu?", ibunya bertanya kembali.
"Jelas salah bu, karena menjadi tukang es krim keliling yang hanya mengendarai sepeda busuk itu membuat aku di ejek bu. Aku malu dengan pekerjaan bapak", jawab Laila sambil terisak.
"Nak, apapun pekerjaan bapakmu yang penting halal. Bapakmu bekerja dengan niat ikhlas mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Kenapa kau harus malu anakku?", nasehat ibunya dan tanya ibunya.
"Kenapa harus jadi tukang es keliling bu? Kenapa pula harus menggunakan sepeda busuk? Telingaku seolah ingin tuli ketika orang-orang mengejekku bu."
Ibunya Laila selalu menasehtinya, tetapi kenyataannya Laila tetap saja malu denn pekerjaan bapaknya.
Laila masih mengingat betul ketika ia disuruh ibunya mengantarkan bekal bapaknya yang tak sengaja tertinggal pada pagi itu. Dengan berat hati Laila menuruti perintah ibunya. Ia keluar dari rumahnya, berjalan mengendap-endap agar tidak diketahui oleh orang-orang. Ia segera berjalan ke SD tempat bapaknya berjualan pada pukul 09.00. Ia melihat banyak bocah mengelilingi bapaknya, setiap bocah bergiliran mendapat es krim yang ada di cung-cung kerupuk tersebut. Es krim di cung-cung tersebut ditukar dengan uang seribu rupiah. Topi yang menutupi kepala bapaknya, sepeda busuk, selalu ada di dekat bapaknya.
Setelah bocah-bocah tersebut tidak ada, Laila segera memberikan bekal bapaknya. Setelah itu, Laila langsung pulang, ia selalu tak ingin berlama-lama di dekat bapaknya.
Laila jijik apabila melihat sepeda busuk yang dikendarai bapaknya untuk berkeliling berjualan es krim. Padahal, apabila sepeda busuk itu bisa berbicara maka dia akan mengatakan bahwa,
"Akulah yang digunakan bapakmu untuk mencari reseki. Selain sepeda busuk, es krim pun mengatakan bahwa akulah yang dijual oleh bapakmu. Mengapa engkau malu mengakui kenyataan bahwa dari kamilah engkau bisa makan. Engkau bisa hidup hingga detik ini. mengapa engkau malu mengakui dan menerima kenyataan ini, Laila."
Hanya orang yang mempunyai hati nurani yang baik yang bisa mendengar apa yang diucapkan oleh benda-benda tadi. Sayangnya, Laila tak mempunyai hati nurani yang tidak baik sehingga ia tidak bisa mendengarnya.
Laila tidak pernah mengatakan bahwa pekerjaan bapaknya adalah tukang es, ia sangat malu dengan pekerjaan bapaknya sehingga ia tidak pernah mengatakan semua ini kepada kekasihnya yaitu Deni. Laila tidak mau kekasihnya mengejek dia seperti orang-orang di sekitarnya yang selalu mengejeknya. Laila sangat bersyukur memiliki Deni yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Deni yang bekerja di salah satu stasiun televisi, sangat dibanggakan oleh Laila.
"Aku sangat bersyukur memilikimu, Deni", ucap Laila kepada Deni.
Mendengar ucapan Laila, maka Deni tak banyak berbicara mengenai dirinya. Ia tidak mau menghancurkan harapan Laila. Arena baginya, melihat Laila tersenyum bahagia pun sudah membuatnya senang. Laila adalah wanita yang sangat Deni cintai, maka Deni tak ingin melukai hatinya.
Sekarang impian Laila menjadi kenyataan, ia sudah resmi dinikahi Deni. Raut wajah bahagia terlihat di wajah Laila, bagi Laila menjadi istri dari lelaki yang pekerjaannya tidak sama seperti bapaknya menjadikan ia terbebas dari kemiskinan, terbebas dari ejekan anak tukang es krim keliling yang selalu dilontarkan oleh  orang-orang yang ada di sekitarnya.
Malam ini pesta resepsi pernikahan Laila dan Deni. Semua orang berdatangan untuk memberikan amplop dan bersalaman dengan pengantin. Teman-teman bapaknya datang silih berganti untuk bersalaman dan mengucapkan selamat atas pernikahan Laila. Selain teman-teman bapaknya, teman-teman Deni pun berdatangan, menggunakan pakaian rapih, menenteng tas mahal, semuanya benar-benar terlihat seperti orang kaya.
"Aku bahagai karena saat ini kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri, aku bahagia memilikimu", ucap Laila.
"Aku pun bahagia Laila", jawab Deni.
Malam itu berlalu dengan kebahagiaan yang menyelimuti Laila dan Deni. Kebahagiaan sepasang anak manusia yang disatukan oleh ikatan suci yang diselimuti kasih sayang dan cinta.
Laila dan suaminya pindah ke Jakarta setelah tiga hari pernikahannya, mereka pindah ke Jakarta dengan alasan karena suaminya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
Delapan jam perjalanan dari kampung Laila menuju Jakarta telah dilewati Laila dan Deni. Seampainya di kota Jakarta, Laila dibawa ke rumah kontrakan yang sangat sederhana, tetapi Laila tak mempedulikan semua itu karena ia sudah terlanjur bahagia atas pernikahannya dengan Deni. Kemiskinan yang akan segera hilang, ejekan orang-orang yang akan segera hilang, membuat Laila bahagia.
Deni bersiap-siap untuk bekera seperti biasana. Laila segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ketika Deni keluar dari kamar menggunakan pakaian yang biasa dipakai dia bekerja, Laila tercengang melihat Deni. Ia bingung mengapa suaminya tidak memakai seragam seperti orang-orang yang bekerja di stasiun televisi pada umumnya. Laila pun bertanya kepada Deni.
"Kenapa kau tidak memakai baju seragam? Bukankah orang-orang yang bekerja di stasiun  televisi memakai seragam khusus?".
"Ya, memang benar istriku. Tapi, inilah seragamku, aku memang berada di lingkungan stasiun televisi tetapi aku hanya berjualan es krim di sana. Aku sering melayani artis yang membeli es krim padaku", jawab Deni.
Laila menangis, ia tak percaya dengan kenyatan yang ia terima. Tetapi apa daya, ia tak kuasa lari dari kenyataan yang ada di depan matanya saat ini.
"Apa kau malu memiliki suami yang pekerjaannya berdagang? Tanya Deni. Tetapi Laila tidak menjawab apa-apa, ia hanya terisak sambil memeluk suaminya. Ia sangat-sangat terpukkul dengan kenyataan ini.
Deni mengelus-elus kepala Laila sambil berkata,
"Laila sayang, aku bekerja dengan cara yang benar, aku mencari rezeki yang halal. Kenapa engkau harus malu? Jika aku jadi pencuri, maka barulah kau malu memiliki suami bajingan. Tetapi aku? Aku mencari rezeki yang halal untuk menafkahimu. Ingat Laila, di mata Allah pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mulia. Hanya penjahat yang pekerjaannya tidak mulia. Saat ini aku memang hanya tukang es kerim keliling, tetapi esok atau lusa? Mungkin saja aku akan menjadi bosnya. Semua ada prosesnya Laila, asal kita mau berusaha dan berdoa, insya Allah kehidupan kita akan berubah sedikit demi sedikit. Asalkan kita tidak kekurangan, Laila, kita tetap harus bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah kepada kita".
Mendengar ucapan suaminya, Laila segera mengusap air mata di pipinya. Ia mulai sadar betapa matanya dibutakan oleh ejekan orang-orang disekitarnya sehingga ia malu mengakui bapaknya, padahal bapaknya sudah tua. Ia tak pernah berpikir betapa lelah seorang pak tua yang setiap hari mengayuh sepeda, berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Semua itu dilakukan bapaknya hanya untuk mencukupi kebutuhan Laila. Laila tersentak, betapa ia tak pernah peduli kepada bapaknya selama in. Ia segera bangkit dari pelukan suaminya sambil berkata,
"Aku ingin pulang, aku ingin segera menemui bapak".
"Iya, apa tidak besok saja kita pulang?, tanya Deni.
"Tidak, aku mau hari ini juga kita pulang", jawab Laila.
Deni tak bisa menolak permintaan Laila, ia segera bersiap-siap untuk pulang.
Ketika perjalanan ke rumahnya, Laila menangis teringat bapaknya, teringat pada perjuangannya selama ini untuk mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan makanan, pendidikan, dan sebagainya.
Sesampainya di rumah, Laila melihat bapaknya sedang bersiap-siap untuk berangkat berdagang. Ia segera mendekati bapaknya dan segera memeluk tubuh bapaknya yang sudah tua tersebut. Ia menangis di pelukan bapaknya,a karena tid tetapi tukang es tersebut hanya diam saja karena tidak mengetahui penyebab tangis anaknya.
Laila meminta maaf kepada bapaknya, Laila baru menyadari bahwa perlakuaannya selama ini kepada bapaknya tersebut tidak baik. Laila sadar, sehina apapun pekerjaan seorang bapak, mereka tetap berusaha untuk mencukup kebutuhan anak dan istrinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar