Jumat, 01 Mei 2015

bros kupu-kupu



Harusnya cinta beriringan bersama logika bukan tanpa logika, bukan sekedar ruang kosong dalam dada yang di isi dengan satu nama, bukan tentang perasaan, bukan kenangan yang melekat, bukan pemberiannya yang di kenang. Harusnya cinta tak menyakiti, harusnya cinta tak menderita, harusnya cinta menyatukan dua anak manusia, dan harusnya cinta saling menggenggam.
Bukan barang pemberian darinya yang harus melekat, namun bros kupu-kupu jutru selalu melekat di kemeja putihnya. Kemeja yang dia kenakan ketika dia bekerja. Sambil memandang bayangan wajahnya sendiri di kaca, Dina tak pernah berkedip. Matanya terfokus pada bros kupu-kupu yang melekat di kemajanya. Bros yang setiap saat memaksa dia kembali mengingat  masa lalunya.
Tanpa sadar, air tiba-tiba bercucuran dari kelopak mata Dina. Dia masih memandang bros kupu-kupu yang melekat di bajunya. Baginya, hidup seperti tak adil. Hidupnya tak seperti ulat yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu, indah bukan? Sayang, hanya metamorfosa ulat yang berujung indah. Tetapi hidup dan kisah cintanya? Tak pernah bermetamorfosa seperti ulat yang berujung indah.
Bros kupu-kupu tetap bisu ketika Dina menatap tajam bros tersebut. Bros pemberian dari Tio, orang dingin yang selalu menyiratkan makna dari setiap pembicaraan singkatnya. Orang yang membuatnya menjadi dingin terhadap pria lain. Bros kupu-kupu menjadi pengganti kehadiran Tio, Tio yang di rindukan Dina di setiap tidurnya. Tio, pria yang dulu hadir di hidupnya. Memang hanya dulu.
Dina tersentak dari ketidak sadarannya ketika mendengar pintu rumahnya ada yang mengetuk. Dia segera menuju pintu, dan ketika pintu itu di buka, sosok pria dewasa berdiri dengan tubuh tegap, tubuh yang sedikit gemuk dengan mata bening, dada bidang, memakai jas dengan rapih. Dia bernama Aryo, sahabat Dina sejak mereka kuliah di universitas yang sama. Aryo menenteng jaket dan satu bungkusan kecil, dia tersenyum ketika melihat dina menatapnya dengan rasa heran.
"Jangan heran, aku ke sini hanya untuk mengantarkan jaketmu yang tertinggal di mobilku. Dan ini bubur ayam untuk makan malammu, aku tahu kamu tak akan makan jika harus sengaja membeli makanan ini ke warung". Ucap Aryo.
"Iya terima kasih. Aku bahkan tak mengingat bahwa jaketku tertinggal di mobilmu. Dan terima kasih kamu sudah mau membawakan makan malam untukku", tutur Laila.
Aryo tak berkata apapun selain tersenyum lalu berbalik menuju mobilnya. Bayangan Aryo tertelan kegelapan malam, hingga Dina tak dapat melihat wajah Aryo. Hanya lampu sorot dari mobil Aryo yang dapat Dina lihat.
Dina kembali ke dalam rumahnya. Ia duduk di jendela sambil menatap ke luar. Jaket dan bubur ayam masih ia tenteng, tetapi matanya malah tak berkedip memandang ke luar. Di luar tak ada apapun, hanya keheningan malam dan kegelapan yang  dia lihat. Meski sekejap dia bisa melihat terangnya purnama di langit dan ribuan bintang yang selalu setia menemani setiap malamnya. Sayangnya hanya ribuan bintang yang selalu setia padanya, sedangkan Tio? Dia tak pernah setia padanya. Dina tertunduk, ada bros kupu-kupu yang melekat di kemejanya. Bros kupu-kupu yang selalu setia bersamanya, sedangkan Tio yang memberi bros kupu-kupu tersebut entah ke mana dan entah di mana. Tio yang seperti di telan bumi tak pernah terlihat batang hidungnya.
Dina berjalan ke kamarnya, dia melepaskan bros kupu-kupu dari kemejanya, mengganti kemeja tersebut dengan piama kesayangannya. Lalu, Dina menyantap bubur yang di bawakan Aryo. Bubur yang ia telan begitu nikmat ketika masuk ke dalam mulutnya. Tapi kenikmatan bubur yang ada dalam mulutnya tak pernah senikmat cinta yang dia harapkan dari Tio. Padahal, Aryo lebih segalanya dari Tio. Aryo yang begitu tulus mencintainya justru dia abaikan. Entah kenapa rasa cinta yang melekat di hati Dina hanya untuk Tio. Tio Tio dan Tio, pria pemberi bros kupu-kupu. Dina masih mengingat kapan bros itu di berikan Tio untuknya.
"Ini hadiah untukmu", kata Tio.
"Hadiah apa Tio?", tanya Dina.
"Ini hadiah ulang tahunmu yang ke 24, dan maaf ini adalah hadiah terakhir yang aku berika untukmu. Sesudah ini ku mohong jangan cari aku, hubungan kita tidak perlu di teruskan kembali", ucap Tio sambil pergi dan menghilang secepat dia menginjak gas mobilnya.
"Tio.... Tio... Tio...", teriakkan Dina begitu berat, berat namun tak berarti.
Dua tahun sudah Tio meninggalkannya bersama bros kupu-kupu. Dina sadar, dia bukan Tuhan yang bisa mengatur jalan hidup manusia, termasuk jalan cinta. Namun rasa pedih masih lekat di hatinya, pedih yang sangat pedih. Bahkan pedihnya terkena pisau dapur mpun takkan melebihi pedih yang ada di hatinya. Terlebih lagi, andai-andai untuk membina rumah tangga sering jadi bahan pembicaraan Dina dengan Tio sehingga Dina tak mudah melupakan sosok Tio. Tio memang tak terlihat indera penglihatannya, tetapi sosok Tio ada dalam ingatannya, dan Bros kupu-kupu adalah kenangan terakhir dari Tio.
Selesai menyantap bubur yang di berikan Aryo, Dina membaringkan badan di tempat tidur mungil miliknya. Dia menarik selimut sehingga tubuhnya tertutup oleh selimut, hanya kepalanya saja yang tidak tertutup oleh selimut. Dia ingin segera memejam, namun kantuk tak kunjung menghampiri indera penglihatannya. Jam dinding menunjukan pukul 10.00 malam namun kantuk tak bersahabat dengan indera penglihatan Dina saat itu. Di tengoknya bros kupu-kupu yang menempel di kemeja yang ia gantung di belakang pintu kamar. Sungguh bros itu selalu membawanya pada kenangan masa lalu bersama Tio. Kenangan yang terus menghantui pikirannya. Bahkan hantu sekali pun tak membuatnya ketakutan, hanya kenangan masa lalunya yang membuat ia merasa ketakutan. Lalu Dina pun terlelap.
Hari ini hari libur, namun Dina justru bangun lebih awal. Seperti biasa ia membereskan pekerjaan rumah. Karena ia anak yatim piatu maka ia mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri.
Jam dinding menunjukan pukul 10.00 pagi, suara klakson mobil terdengar oleh indera pendengaran Dina. Dina menengok ke jendela.
"Ah ku kira siapa, rupanya Aryo yang datang", ucap Dina dalam hatinya.
Dina pun membukakan pintu lalu Aryo masuk ke rumah Dina.
"Apa kamu siap untuk berlibur? Mukamu sudah kusam, sama kusamnya sepert rambut yang sudah berminggu-minggu tak di sampo", kata Aryo.
"Kamu ini berniat mengajakku liburan atau mau mengejekku?", jawab Dina sinis. "He.. he.. he.. Aku hanya bercanda Din, ayolah kita berlibur. Dari pada diam saja di rumah, duduk saja nonton tv, nanti kamu malah kena ambeyen lagi", ucap Aryo sambil bercanda.
"Sebentar, aku mandi dulu", Dina berlalu menuju kamarnya.
Mobil sport melaju dengan kencang, seiring jauhnya jarak yang di tempuh sehingga mobil sport itu tak tampak oleh mata yang memandang. Dalam perjalanan menuju Puncak Bogor, Dina hanya mematung saja. Dia tak punya selera untuk banyak bicara, pikirannya limbung memikirkan Tio. Aneh, sungguh aneh. Dia tak sedikit pun membenci Tio, padahal perlakuan Tio sangat menyakitinya.
"Sudahlah tak perlu memikirkan orang itu lagi, dia terlalu abstrak untuk kamu pikirkan", celetuk Aryo.
"Biarkan saja, ini masalah hati. Kamu tak akan pernah tau karena kamu tak tahu soal cinta", ucap Dina sinis.
"Apa aku harus tahu dulu tentang cinta baru aku harus bicara soal cinta? Cinta itu perlu logika Din, jangan kamu siksa lahir dan batinmu hanya untuk memikirkan dia yang belum tentu memikirkanmu. Tengoklah Din, ada aku di sini. Aku yang menyayangimu sejak pertama kali kita saling mengenal. Apa kamu tak sadar?", tanya Aryo.
"Sudahlah tak perlu membahas perasaanmu, aku tak mau tahu. Yang jelas, ketulusan takkan mudah untuk di lenyapkan", jawab Dina.
Memang sulit bicara dengan Dina, sosok perempuan yang keras kepala. Yang hanya mempedulikan perasaannya tanpa peduli terhadap perasaan orang lain.
Lagi dan lagi, mata Dina tertuju pada bros kupu-kupu. Bros kupu-kupu yang setia menemaninya, yang selalu dia bawa kemana pn dia pergi. Dari bros kupu-kupu itulah dia menemukan sosok Tio. Sosok abstrak yang tak pernah dia temukan lagi setelah dua tahun meninggalkannya.
Jam tangan Dina menunjukan pukul 15.30, Aryo dan Dina menuju villa tempat peristirahatan mereka. Lalu mereka berbaring di tempat tidur yang sama dan saling berpandangan.
"Aryo, apa sikapku selama ini salah?", tanya Dina.
"Sikapmu tak salah, namun perasaanmu itu salah. Harusnya kamu melupakannya agar kamu tak terus menerus menderita dengan perasaan tersebut. Kamu ingat pembicaraan bahwa cinta itu harus memakai logika. Memang perasaan itu penting, tetapi logika juga harus berjalan beriringan dengan perasaan. Dan bros kupu-kupu itu, kamu buang saja benda itu, benda yang selalu membuatmu teringat padanya. Kamu ingat lagi, bahwa cinta bukan tentang pemberian darinya karena percuma saja apabila pemberiannya membuatmu tersika seperti saat ini", jawab Aryo.
Dina menarik nafas panjang dan air mata pun jatuh tanpa Dina undang.
"Ingin aku melupakanmu Tio, melupakan semua kenangan bersamamu, melupakan khayalan-khayalan kita dahulu. Namun entahlah, ku rasa ini tak sanggup aku jalani", Dina bicara dalam hatinya.
Dina seperti mendengar ucapan dari sosok yang sama persis dengannya yang mengatakan,
"Apa kamu mau tersiksa hingga kamu tua? Ingat Dina, cinta bukan sekedar soal perasaan, bukan soal bersama, bukan soal kenangan. Tapi cinta juga soal logika, logika yang di pakai ketika seseorang mencintai pasangannya. Apa kamu mau di bodohi dengan perasaan? Di bodohi dengan janji-janji palsu yang mengatasnamakan cinta? Untuk apa kamu pertahankan perasaan yang membuatmu terluka. Untuk apa kamu pertahankan bros kupu-kupu itu jika hanya membuatmu mengingat Tio, orang yang meninggalkanmu dua tahun yang lalu".
Dina limbung, pikirannya kacau antara ketulusan cinta dan logika cinta yang harus beriringan bersama perasaannya.
Hampir 8 jam Dina tak memejamkan mata, dia hanya bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Dia bimbang harus melakukan apa. Bimbang antara mempertahankan ketulusannya dan berharap Tio akan kembali padanya. Berharap Tio memberikan hadiah setelah Tio memberikan bros kupu-kupu. Namun, saat itu kesadaran Dina berpihak padanya. Dia baru sadar, bahwa cinta takkan menyiksa. Bahwa cinta takkan membuatnya menderita, bahwa cinta harus diiringi dengan logika, bahwa cinta bukan karena kenyamanan. Namun soal perlakuan pasangan yang membuat dirinya merasa nyaman.
"Aryo, aku pamit pulang sendiri. Aku tak mau merepotkanmu lagi. Maaf jika aku menyakitimu", ucap Dina sambil berlalu tanpa ekspresi apa pun.
Aryo kebingungan, mengapa Dina meninggalkannya begitu saja. Dina resign dari kantor, Dina pindah rumah. Hingga Aryo tak dapat menemui Dina lagi. Aryo tak pernah tahu apakah perasaannya kepada Dina selama ini salah, kalau pun salah, Aryo tak tahu di mana letak kesalahannya.
Satu tahun berlalu tanpa perubahan, perubahan perasaan Aryo kepada Dina. Hingga pada sabtu sore setelah Aryo selesai bekerja. Dia sengaja ke toko buku untuk sekedar membeli novel, lalu dari sisi kirinya ada sosok perempuan dengan kemeja rapih dan tepat dengan lekatan bros kupu-kupu di kemejanya.
"Aryo, maafkan aku dulu meninggalkanmu. Aku tak tahu harus berbuat apa saat itu, yang jelas aku ingin melenyapkan rasa sakit dan rasa sayangku terhadap Tio", ucap Dina.
"Lalu saat ini perasaanmu bagaimana?", tanya Aryo.
"Aku takkan menyia-nyiakan ketulusan dari seseorang yang menyayangiku, karena aku sudah merasakan sakitnya ketika ketulusan tak di hargai. Dan bros kupu-kupu ini." jawab Dina.
Bros kupu-kupu itu Dina buang ke tong sampah yang ada di toko buku.







Untuk perempuan yang mempertahankan ketulusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar