Harusnya cinta beriringan bersama logika bukan tanpa logika, bukan
sekedar ruang kosong dalam dada yang di isi dengan satu nama, bukan tentang
perasaan, bukan kenangan yang melekat, bukan pemberiannya yang di kenang.
Harusnya cinta tak menyakiti, harusnya cinta tak menderita, harusnya cinta
menyatukan dua anak manusia, dan harusnya cinta saling menggenggam.
Bukan barang pemberian darinya yang harus melekat, namun bros
kupu-kupu jutru selalu melekat di kemeja putihnya. Kemeja yang dia kenakan
ketika dia bekerja. Sambil memandang bayangan wajahnya sendiri di kaca, Dina
tak pernah berkedip. Matanya terfokus pada bros kupu-kupu yang melekat di
kemajanya. Bros yang setiap saat memaksa dia kembali mengingat masa lalunya.
Tanpa sadar, air tiba-tiba bercucuran dari kelopak mata Dina. Dia
masih memandang bros kupu-kupu yang melekat di bajunya. Baginya, hidup seperti
tak adil. Hidupnya tak seperti ulat yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu,
indah bukan? Sayang, hanya metamorfosa ulat yang berujung indah. Tetapi hidup
dan kisah cintanya? Tak pernah bermetamorfosa seperti ulat yang berujung indah.
Bros kupu-kupu tetap bisu ketika Dina menatap tajam bros tersebut.
Bros pemberian dari Tio, orang dingin yang selalu menyiratkan makna dari setiap
pembicaraan singkatnya. Orang yang membuatnya menjadi dingin terhadap pria
lain. Bros kupu-kupu menjadi pengganti kehadiran Tio, Tio yang di rindukan Dina
di setiap tidurnya. Tio, pria yang dulu hadir di hidupnya. Memang hanya dulu.
Dina tersentak dari ketidak sadarannya ketika mendengar pintu
rumahnya ada yang mengetuk. Dia segera menuju pintu, dan ketika pintu itu di
buka, sosok pria dewasa berdiri dengan tubuh tegap, tubuh yang sedikit gemuk
dengan mata bening, dada bidang, memakai jas dengan rapih. Dia bernama Aryo,
sahabat Dina sejak mereka kuliah di universitas yang sama. Aryo menenteng jaket
dan satu bungkusan kecil, dia tersenyum ketika melihat dina menatapnya dengan
rasa heran.
"Jangan heran, aku ke sini hanya untuk mengantarkan jaketmu
yang tertinggal di mobilku. Dan ini bubur ayam untuk makan malammu, aku tahu
kamu tak akan makan jika harus sengaja membeli makanan ini ke warung".
Ucap Aryo.
"Iya terima kasih. Aku bahkan tak mengingat bahwa jaketku
tertinggal di mobilmu. Dan terima kasih kamu sudah mau membawakan makan malam
untukku", tutur Laila.
Aryo tak berkata apapun selain tersenyum lalu berbalik menuju
mobilnya. Bayangan Aryo tertelan kegelapan malam, hingga Dina tak dapat melihat
wajah Aryo. Hanya lampu sorot dari mobil Aryo yang dapat Dina lihat.
Dina kembali ke dalam rumahnya. Ia duduk di jendela sambil menatap
ke luar. Jaket dan bubur ayam masih ia tenteng, tetapi matanya malah tak
berkedip memandang ke luar. Di luar tak ada apapun, hanya keheningan malam dan
kegelapan yang dia lihat. Meski sekejap
dia bisa melihat terangnya purnama di langit dan ribuan bintang yang selalu
setia menemani setiap malamnya. Sayangnya hanya ribuan bintang yang selalu setia
padanya, sedangkan Tio? Dia tak pernah setia padanya. Dina tertunduk, ada bros
kupu-kupu yang melekat di kemejanya. Bros kupu-kupu yang selalu setia
bersamanya, sedangkan Tio yang memberi bros kupu-kupu tersebut entah ke mana
dan entah di mana. Tio yang seperti di telan bumi tak pernah terlihat batang
hidungnya.
Dina berjalan ke kamarnya, dia melepaskan bros kupu-kupu dari
kemejanya, mengganti kemeja tersebut dengan piama kesayangannya. Lalu, Dina
menyantap bubur yang di bawakan Aryo. Bubur yang ia telan begitu nikmat ketika
masuk ke dalam mulutnya. Tapi kenikmatan bubur yang ada dalam mulutnya tak
pernah senikmat cinta yang dia harapkan dari Tio. Padahal, Aryo lebih segalanya
dari Tio. Aryo yang begitu tulus mencintainya justru dia abaikan. Entah kenapa
rasa cinta yang melekat di hati Dina hanya untuk Tio. Tio Tio dan Tio, pria
pemberi bros kupu-kupu. Dina masih mengingat kapan bros itu di berikan Tio
untuknya.
"Ini hadiah untukmu", kata Tio.
"Hadiah apa Tio?", tanya Dina.
"Ini hadiah ulang tahunmu yang ke 24, dan maaf ini adalah
hadiah terakhir yang aku berika untukmu. Sesudah ini ku mohong jangan cari aku,
hubungan kita tidak perlu di teruskan kembali", ucap Tio sambil pergi dan
menghilang secepat dia menginjak gas mobilnya.
"Tio.... Tio... Tio...", teriakkan Dina begitu berat,
berat namun tak berarti.
Dua tahun sudah Tio meninggalkannya bersama bros kupu-kupu. Dina
sadar, dia bukan Tuhan yang bisa mengatur jalan hidup manusia, termasuk jalan
cinta. Namun rasa pedih masih lekat di hatinya, pedih yang sangat pedih. Bahkan
pedihnya terkena pisau dapur mpun takkan melebihi pedih yang ada di hatinya.
Terlebih lagi, andai-andai untuk membina rumah tangga sering jadi bahan
pembicaraan Dina dengan Tio sehingga Dina tak mudah melupakan sosok Tio. Tio
memang tak terlihat indera penglihatannya, tetapi sosok Tio ada dalam
ingatannya, dan Bros kupu-kupu adalah kenangan terakhir dari Tio.
Selesai menyantap bubur yang di berikan Aryo, Dina membaringkan
badan di tempat tidur mungil miliknya. Dia menarik selimut sehingga tubuhnya
tertutup oleh selimut, hanya kepalanya saja yang tidak tertutup oleh selimut.
Dia ingin segera memejam, namun kantuk tak kunjung menghampiri indera
penglihatannya. Jam dinding menunjukan pukul 10.00 malam namun kantuk tak
bersahabat dengan indera penglihatan Dina saat itu. Di tengoknya bros kupu-kupu
yang menempel di kemeja yang ia gantung di belakang pintu kamar. Sungguh bros
itu selalu membawanya pada kenangan masa lalu bersama Tio. Kenangan yang terus
menghantui pikirannya. Bahkan hantu sekali pun tak membuatnya ketakutan, hanya
kenangan masa lalunya yang membuat ia merasa ketakutan. Lalu Dina pun terlelap.
Hari ini hari libur, namun Dina justru bangun lebih awal. Seperti
biasa ia membereskan pekerjaan rumah. Karena ia anak yatim piatu maka ia
mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri.
Jam dinding menunjukan pukul 10.00 pagi, suara klakson mobil
terdengar oleh indera pendengaran Dina. Dina menengok ke jendela.
"Ah ku kira siapa, rupanya Aryo yang datang", ucap Dina
dalam hatinya.
Dina pun membukakan pintu lalu Aryo masuk ke rumah Dina.
"Apa kamu siap untuk berlibur? Mukamu sudah kusam, sama
kusamnya sepert rambut yang sudah berminggu-minggu tak di sampo", kata
Aryo.
"Kamu ini berniat mengajakku
liburan atau mau mengejekku?", jawab Dina sinis. "He.. he.. he.. Aku
hanya bercanda Din, ayolah kita berlibur. Dari pada diam saja di rumah, duduk
saja nonton tv, nanti kamu malah kena ambeyen lagi", ucap Aryo sambil
bercanda.
"Sebentar, aku mandi dulu", Dina berlalu menuju kamarnya.
Mobil sport melaju dengan kencang, seiring jauhnya jarak yang di
tempuh sehingga mobil sport itu tak tampak oleh mata yang memandang. Dalam
perjalanan menuju Puncak Bogor, Dina hanya mematung saja. Dia tak punya selera
untuk banyak bicara, pikirannya limbung memikirkan Tio. Aneh, sungguh aneh. Dia
tak sedikit pun membenci Tio, padahal perlakuan Tio sangat menyakitinya.
"Sudahlah tak perlu memikirkan orang itu lagi, dia terlalu
abstrak untuk kamu pikirkan", celetuk Aryo.
"Biarkan saja, ini masalah hati. Kamu tak akan pernah tau
karena kamu tak tahu soal cinta", ucap Dina sinis.
"Apa aku harus tahu dulu tentang cinta baru aku harus bicara
soal cinta? Cinta itu perlu logika Din, jangan kamu siksa lahir dan batinmu
hanya untuk memikirkan dia yang belum tentu memikirkanmu. Tengoklah Din, ada
aku di sini. Aku yang menyayangimu sejak pertama kali kita saling mengenal. Apa
kamu tak sadar?", tanya Aryo.
"Sudahlah tak perlu membahas perasaanmu, aku tak mau tahu.
Yang jelas, ketulusan takkan mudah untuk di lenyapkan", jawab Dina.
Memang sulit bicara dengan Dina, sosok perempuan yang keras kepala.
Yang hanya mempedulikan perasaannya tanpa peduli terhadap perasaan orang lain.
Lagi dan lagi, mata Dina tertuju pada bros kupu-kupu. Bros
kupu-kupu yang setia menemaninya, yang selalu dia bawa kemana pn dia pergi.
Dari bros kupu-kupu itulah dia menemukan sosok Tio. Sosok abstrak yang tak
pernah dia temukan lagi setelah dua tahun meninggalkannya.
Jam tangan Dina menunjukan pukul 15.30, Aryo dan Dina menuju villa
tempat peristirahatan mereka. Lalu mereka berbaring di tempat tidur yang sama
dan saling berpandangan.
"Aryo, apa sikapku selama ini salah?", tanya Dina.
"Sikapmu tak salah, namun perasaanmu itu salah. Harusnya kamu
melupakannya agar kamu tak terus menerus menderita dengan perasaan tersebut.
Kamu ingat pembicaraan bahwa cinta itu harus memakai logika. Memang perasaan
itu penting, tetapi logika juga harus berjalan beriringan dengan perasaan. Dan
bros kupu-kupu itu, kamu buang saja benda itu, benda yang selalu membuatmu
teringat padanya. Kamu ingat lagi, bahwa cinta bukan tentang pemberian darinya
karena percuma saja apabila pemberiannya membuatmu tersika seperti saat
ini", jawab Aryo.
Dina menarik nafas panjang dan air mata pun jatuh tanpa Dina
undang.
"Ingin aku melupakanmu Tio, melupakan semua kenangan
bersamamu, melupakan khayalan-khayalan kita dahulu. Namun entahlah, ku rasa ini
tak sanggup aku jalani", Dina bicara dalam hatinya.
Dina seperti mendengar ucapan dari sosok yang sama persis dengannya
yang mengatakan,
"Apa kamu mau tersiksa hingga kamu tua? Ingat Dina, cinta
bukan sekedar soal perasaan, bukan soal bersama, bukan soal kenangan. Tapi
cinta juga soal logika, logika yang di pakai ketika seseorang mencintai
pasangannya. Apa kamu mau di bodohi dengan perasaan? Di bodohi dengan
janji-janji palsu yang mengatasnamakan cinta? Untuk apa kamu pertahankan
perasaan yang membuatmu terluka. Untuk apa kamu pertahankan bros kupu-kupu itu
jika hanya membuatmu mengingat Tio, orang yang meninggalkanmu dua tahun yang
lalu".
Dina limbung, pikirannya kacau antara ketulusan cinta dan logika
cinta yang harus beriringan bersama perasaannya.
Hampir 8 jam Dina tak memejamkan mata, dia hanya bertanya dan menjawab
pertanyaannya sendiri. Dia bimbang harus melakukan apa. Bimbang antara
mempertahankan ketulusannya dan berharap Tio akan kembali padanya. Berharap Tio
memberikan hadiah setelah Tio memberikan bros kupu-kupu. Namun, saat itu
kesadaran Dina berpihak padanya. Dia baru sadar, bahwa cinta takkan menyiksa.
Bahwa cinta takkan membuatnya menderita, bahwa cinta harus diiringi dengan
logika, bahwa cinta bukan karena kenyamanan. Namun soal perlakuan pasangan yang
membuat dirinya merasa nyaman.
"Aryo, aku pamit pulang sendiri. Aku tak mau merepotkanmu
lagi. Maaf jika aku menyakitimu", ucap Dina sambil berlalu tanpa ekspresi
apa pun.
Aryo kebingungan, mengapa Dina meninggalkannya begitu saja. Dina resign
dari kantor, Dina pindah rumah. Hingga Aryo tak dapat menemui Dina lagi. Aryo
tak pernah tahu apakah perasaannya kepada Dina selama ini salah, kalau pun
salah, Aryo tak tahu di mana letak kesalahannya.
Satu tahun berlalu tanpa perubahan, perubahan perasaan Aryo kepada
Dina. Hingga pada sabtu sore setelah Aryo selesai bekerja. Dia sengaja ke toko
buku untuk sekedar membeli novel, lalu dari sisi kirinya ada sosok perempuan
dengan kemeja rapih dan tepat dengan lekatan bros kupu-kupu di kemejanya.
"Aryo, maafkan aku dulu meninggalkanmu. Aku tak tahu harus
berbuat apa saat itu, yang jelas aku ingin melenyapkan rasa sakit dan rasa
sayangku terhadap Tio", ucap Dina.
"Lalu saat ini perasaanmu bagaimana?", tanya Aryo.
"Aku takkan menyia-nyiakan ketulusan dari seseorang yang
menyayangiku, karena aku sudah merasakan sakitnya ketika ketulusan tak di
hargai. Dan bros kupu-kupu ini." jawab Dina.
Bros kupu-kupu itu Dina buang ke tong sampah yang ada di toko buku.
Untuk perempuan yang mempertahankan
ketulusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar