Jumat, 01 Mei 2015

KESADARAN DI AKHIR



Laila seolah tak pernah berhenti mendengar cacian dan makian dari orang-orang di sekitarnya, cacian dan makian yang ia terima sejak ia masuk SD hingga SMP. Mulut-mulut biadab orang-orang yang ada di sekitar Laila selalu mengoceh apabila melihat perilaku Laila yang membuat mereka tidak senang melihatnya. Kata pedagang, mengayuh sepeda, dan berkeliling bagaikan burung beo yang selalu mengoceh dan ocehannya selalu ia dengar.
Pagi itu, Laila mengantarkan undangan pernikahannya, ia mengantarkan undangan tersebut kepada teman-teman waktu ia SD, SMP, dan SMA. Di dalam hatinya, ia selalu  tertawa sambil berkata, "sesaat lagi aku akan memiliki suami yang bekerja di stasiun Televisi, setiap waktu suamiku akan ada di layar Televisi. Ha..ha..ha..", begitulah yang ada di dalam hati Laila.
"Anak tukang es krim akan menikah dengan orang yang bekerja di stasiun Televisi", begitu ocehan orang-orang setelah Laila membagikan undangan pernikahannya.
"Hey Laila, mana sepeda busukmu?", tanya salah seorang tetangganya.
"Aku tak mempunyai sepeda busuk", jawab Laila jujur.
"Halah, anak tukang es krim keliling saja belaga tak memiliki sepeda busuk. Kau kira bapakmu keliling mengendarai motor?", ejek orang tersebut.
Ketika Laila masih duduk di bangku SD, ia pernah bertanya pada ibunya.
"Bu, mengapa bapak menjadi tukang es keliling yang mengendarai sepeda busuk?", tanya Laila.
"Lho, memangnya kenapa nak? Apa ada yang dalah dengan pekerjaan bapakmu?", ibunya bertanya kembali.
"Jelas salah bu, karena menjadi tukang es krim keliling yang hanya mengendarai sepeda busuk itu membuat aku di ejek bu. Aku malu dengan pekerjaan bapak", jawab Laila sambil terisak.
"Nak, apapun pekerjaan bapakmu yang penting halal. Bapakmu bekerja dengan niat ikhlas mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Kenapa kau harus malu anakku?", nasehat ibunya dan tanya ibunya.
"Kenapa harus jadi tukang es keliling bu? Kenapa pula harus menggunakan sepeda busuk? Telingaku seolah ingin tuli ketika orang-orang mengejekku bu."
Ibunya Laila selalu menasehtinya, tetapi kenyataannya Laila tetap saja malu denn pekerjaan bapaknya.
Laila masih mengingat betul ketika ia disuruh ibunya mengantarkan bekal bapaknya yang tak sengaja tertinggal pada pagi itu. Dengan berat hati Laila menuruti perintah ibunya. Ia keluar dari rumahnya, berjalan mengendap-endap agar tidak diketahui oleh orang-orang. Ia segera berjalan ke SD tempat bapaknya berjualan pada pukul 09.00. Ia melihat banyak bocah mengelilingi bapaknya, setiap bocah bergiliran mendapat es krim yang ada di cung-cung kerupuk tersebut. Es krim di cung-cung tersebut ditukar dengan uang seribu rupiah. Topi yang menutupi kepala bapaknya, sepeda busuk, selalu ada di dekat bapaknya.
Setelah bocah-bocah tersebut tidak ada, Laila segera memberikan bekal bapaknya. Setelah itu, Laila langsung pulang, ia selalu tak ingin berlama-lama di dekat bapaknya.
Laila jijik apabila melihat sepeda busuk yang dikendarai bapaknya untuk berkeliling berjualan es krim. Padahal, apabila sepeda busuk itu bisa berbicara maka dia akan mengatakan bahwa,
"Akulah yang digunakan bapakmu untuk mencari reseki. Selain sepeda busuk, es krim pun mengatakan bahwa akulah yang dijual oleh bapakmu. Mengapa engkau malu mengakui kenyataan bahwa dari kamilah engkau bisa makan. Engkau bisa hidup hingga detik ini. mengapa engkau malu mengakui dan menerima kenyataan ini, Laila."
Hanya orang yang mempunyai hati nurani yang baik yang bisa mendengar apa yang diucapkan oleh benda-benda tadi. Sayangnya, Laila tak mempunyai hati nurani yang tidak baik sehingga ia tidak bisa mendengarnya.
Laila tidak pernah mengatakan bahwa pekerjaan bapaknya adalah tukang es, ia sangat malu dengan pekerjaan bapaknya sehingga ia tidak pernah mengatakan semua ini kepada kekasihnya yaitu Deni. Laila tidak mau kekasihnya mengejek dia seperti orang-orang di sekitarnya yang selalu mengejeknya. Laila sangat bersyukur memiliki Deni yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Deni yang bekerja di salah satu stasiun televisi, sangat dibanggakan oleh Laila.
"Aku sangat bersyukur memilikimu, Deni", ucap Laila kepada Deni.
Mendengar ucapan Laila, maka Deni tak banyak berbicara mengenai dirinya. Ia tidak mau menghancurkan harapan Laila. Arena baginya, melihat Laila tersenyum bahagia pun sudah membuatnya senang. Laila adalah wanita yang sangat Deni cintai, maka Deni tak ingin melukai hatinya.
Sekarang impian Laila menjadi kenyataan, ia sudah resmi dinikahi Deni. Raut wajah bahagia terlihat di wajah Laila, bagi Laila menjadi istri dari lelaki yang pekerjaannya tidak sama seperti bapaknya menjadikan ia terbebas dari kemiskinan, terbebas dari ejekan anak tukang es krim keliling yang selalu dilontarkan oleh  orang-orang yang ada di sekitarnya.
Malam ini pesta resepsi pernikahan Laila dan Deni. Semua orang berdatangan untuk memberikan amplop dan bersalaman dengan pengantin. Teman-teman bapaknya datang silih berganti untuk bersalaman dan mengucapkan selamat atas pernikahan Laila. Selain teman-teman bapaknya, teman-teman Deni pun berdatangan, menggunakan pakaian rapih, menenteng tas mahal, semuanya benar-benar terlihat seperti orang kaya.
"Aku bahagai karena saat ini kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri, aku bahagia memilikimu", ucap Laila.
"Aku pun bahagia Laila", jawab Deni.
Malam itu berlalu dengan kebahagiaan yang menyelimuti Laila dan Deni. Kebahagiaan sepasang anak manusia yang disatukan oleh ikatan suci yang diselimuti kasih sayang dan cinta.
Laila dan suaminya pindah ke Jakarta setelah tiga hari pernikahannya, mereka pindah ke Jakarta dengan alasan karena suaminya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
Delapan jam perjalanan dari kampung Laila menuju Jakarta telah dilewati Laila dan Deni. Seampainya di kota Jakarta, Laila dibawa ke rumah kontrakan yang sangat sederhana, tetapi Laila tak mempedulikan semua itu karena ia sudah terlanjur bahagia atas pernikahannya dengan Deni. Kemiskinan yang akan segera hilang, ejekan orang-orang yang akan segera hilang, membuat Laila bahagia.
Deni bersiap-siap untuk bekera seperti biasana. Laila segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ketika Deni keluar dari kamar menggunakan pakaian yang biasa dipakai dia bekerja, Laila tercengang melihat Deni. Ia bingung mengapa suaminya tidak memakai seragam seperti orang-orang yang bekerja di stasiun televisi pada umumnya. Laila pun bertanya kepada Deni.
"Kenapa kau tidak memakai baju seragam? Bukankah orang-orang yang bekerja di stasiun  televisi memakai seragam khusus?".
"Ya, memang benar istriku. Tapi, inilah seragamku, aku memang berada di lingkungan stasiun televisi tetapi aku hanya berjualan es krim di sana. Aku sering melayani artis yang membeli es krim padaku", jawab Deni.
Laila menangis, ia tak percaya dengan kenyatan yang ia terima. Tetapi apa daya, ia tak kuasa lari dari kenyataan yang ada di depan matanya saat ini.
"Apa kau malu memiliki suami yang pekerjaannya berdagang? Tanya Deni. Tetapi Laila tidak menjawab apa-apa, ia hanya terisak sambil memeluk suaminya. Ia sangat-sangat terpukkul dengan kenyataan ini.
Deni mengelus-elus kepala Laila sambil berkata,
"Laila sayang, aku bekerja dengan cara yang benar, aku mencari rezeki yang halal. Kenapa engkau harus malu? Jika aku jadi pencuri, maka barulah kau malu memiliki suami bajingan. Tetapi aku? Aku mencari rezeki yang halal untuk menafkahimu. Ingat Laila, di mata Allah pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mulia. Hanya penjahat yang pekerjaannya tidak mulia. Saat ini aku memang hanya tukang es kerim keliling, tetapi esok atau lusa? Mungkin saja aku akan menjadi bosnya. Semua ada prosesnya Laila, asal kita mau berusaha dan berdoa, insya Allah kehidupan kita akan berubah sedikit demi sedikit. Asalkan kita tidak kekurangan, Laila, kita tetap harus bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah kepada kita".
Mendengar ucapan suaminya, Laila segera mengusap air mata di pipinya. Ia mulai sadar betapa matanya dibutakan oleh ejekan orang-orang disekitarnya sehingga ia malu mengakui bapaknya, padahal bapaknya sudah tua. Ia tak pernah berpikir betapa lelah seorang pak tua yang setiap hari mengayuh sepeda, berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Semua itu dilakukan bapaknya hanya untuk mencukupi kebutuhan Laila. Laila tersentak, betapa ia tak pernah peduli kepada bapaknya selama in. Ia segera bangkit dari pelukan suaminya sambil berkata,
"Aku ingin pulang, aku ingin segera menemui bapak".
"Iya, apa tidak besok saja kita pulang?, tanya Deni.
"Tidak, aku mau hari ini juga kita pulang", jawab Laila.
Deni tak bisa menolak permintaan Laila, ia segera bersiap-siap untuk pulang.
Ketika perjalanan ke rumahnya, Laila menangis teringat bapaknya, teringat pada perjuangannya selama ini untuk mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan makanan, pendidikan, dan sebagainya.
Sesampainya di rumah, Laila melihat bapaknya sedang bersiap-siap untuk berangkat berdagang. Ia segera mendekati bapaknya dan segera memeluk tubuh bapaknya yang sudah tua tersebut. Ia menangis di pelukan bapaknya,a karena tid tetapi tukang es tersebut hanya diam saja karena tidak mengetahui penyebab tangis anaknya.
Laila meminta maaf kepada bapaknya, Laila baru menyadari bahwa perlakuaannya selama ini kepada bapaknya tersebut tidak baik. Laila sadar, sehina apapun pekerjaan seorang bapak, mereka tetap berusaha untuk mencukup kebutuhan anak dan istrinya.

bros kupu-kupu



Harusnya cinta beriringan bersama logika bukan tanpa logika, bukan sekedar ruang kosong dalam dada yang di isi dengan satu nama, bukan tentang perasaan, bukan kenangan yang melekat, bukan pemberiannya yang di kenang. Harusnya cinta tak menyakiti, harusnya cinta tak menderita, harusnya cinta menyatukan dua anak manusia, dan harusnya cinta saling menggenggam.
Bukan barang pemberian darinya yang harus melekat, namun bros kupu-kupu jutru selalu melekat di kemeja putihnya. Kemeja yang dia kenakan ketika dia bekerja. Sambil memandang bayangan wajahnya sendiri di kaca, Dina tak pernah berkedip. Matanya terfokus pada bros kupu-kupu yang melekat di kemajanya. Bros yang setiap saat memaksa dia kembali mengingat  masa lalunya.
Tanpa sadar, air tiba-tiba bercucuran dari kelopak mata Dina. Dia masih memandang bros kupu-kupu yang melekat di bajunya. Baginya, hidup seperti tak adil. Hidupnya tak seperti ulat yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu, indah bukan? Sayang, hanya metamorfosa ulat yang berujung indah. Tetapi hidup dan kisah cintanya? Tak pernah bermetamorfosa seperti ulat yang berujung indah.
Bros kupu-kupu tetap bisu ketika Dina menatap tajam bros tersebut. Bros pemberian dari Tio, orang dingin yang selalu menyiratkan makna dari setiap pembicaraan singkatnya. Orang yang membuatnya menjadi dingin terhadap pria lain. Bros kupu-kupu menjadi pengganti kehadiran Tio, Tio yang di rindukan Dina di setiap tidurnya. Tio, pria yang dulu hadir di hidupnya. Memang hanya dulu.
Dina tersentak dari ketidak sadarannya ketika mendengar pintu rumahnya ada yang mengetuk. Dia segera menuju pintu, dan ketika pintu itu di buka, sosok pria dewasa berdiri dengan tubuh tegap, tubuh yang sedikit gemuk dengan mata bening, dada bidang, memakai jas dengan rapih. Dia bernama Aryo, sahabat Dina sejak mereka kuliah di universitas yang sama. Aryo menenteng jaket dan satu bungkusan kecil, dia tersenyum ketika melihat dina menatapnya dengan rasa heran.
"Jangan heran, aku ke sini hanya untuk mengantarkan jaketmu yang tertinggal di mobilku. Dan ini bubur ayam untuk makan malammu, aku tahu kamu tak akan makan jika harus sengaja membeli makanan ini ke warung". Ucap Aryo.
"Iya terima kasih. Aku bahkan tak mengingat bahwa jaketku tertinggal di mobilmu. Dan terima kasih kamu sudah mau membawakan makan malam untukku", tutur Laila.
Aryo tak berkata apapun selain tersenyum lalu berbalik menuju mobilnya. Bayangan Aryo tertelan kegelapan malam, hingga Dina tak dapat melihat wajah Aryo. Hanya lampu sorot dari mobil Aryo yang dapat Dina lihat.
Dina kembali ke dalam rumahnya. Ia duduk di jendela sambil menatap ke luar. Jaket dan bubur ayam masih ia tenteng, tetapi matanya malah tak berkedip memandang ke luar. Di luar tak ada apapun, hanya keheningan malam dan kegelapan yang  dia lihat. Meski sekejap dia bisa melihat terangnya purnama di langit dan ribuan bintang yang selalu setia menemani setiap malamnya. Sayangnya hanya ribuan bintang yang selalu setia padanya, sedangkan Tio? Dia tak pernah setia padanya. Dina tertunduk, ada bros kupu-kupu yang melekat di kemejanya. Bros kupu-kupu yang selalu setia bersamanya, sedangkan Tio yang memberi bros kupu-kupu tersebut entah ke mana dan entah di mana. Tio yang seperti di telan bumi tak pernah terlihat batang hidungnya.
Dina berjalan ke kamarnya, dia melepaskan bros kupu-kupu dari kemejanya, mengganti kemeja tersebut dengan piama kesayangannya. Lalu, Dina menyantap bubur yang di bawakan Aryo. Bubur yang ia telan begitu nikmat ketika masuk ke dalam mulutnya. Tapi kenikmatan bubur yang ada dalam mulutnya tak pernah senikmat cinta yang dia harapkan dari Tio. Padahal, Aryo lebih segalanya dari Tio. Aryo yang begitu tulus mencintainya justru dia abaikan. Entah kenapa rasa cinta yang melekat di hati Dina hanya untuk Tio. Tio Tio dan Tio, pria pemberi bros kupu-kupu. Dina masih mengingat kapan bros itu di berikan Tio untuknya.
"Ini hadiah untukmu", kata Tio.
"Hadiah apa Tio?", tanya Dina.
"Ini hadiah ulang tahunmu yang ke 24, dan maaf ini adalah hadiah terakhir yang aku berika untukmu. Sesudah ini ku mohong jangan cari aku, hubungan kita tidak perlu di teruskan kembali", ucap Tio sambil pergi dan menghilang secepat dia menginjak gas mobilnya.
"Tio.... Tio... Tio...", teriakkan Dina begitu berat, berat namun tak berarti.
Dua tahun sudah Tio meninggalkannya bersama bros kupu-kupu. Dina sadar, dia bukan Tuhan yang bisa mengatur jalan hidup manusia, termasuk jalan cinta. Namun rasa pedih masih lekat di hatinya, pedih yang sangat pedih. Bahkan pedihnya terkena pisau dapur mpun takkan melebihi pedih yang ada di hatinya. Terlebih lagi, andai-andai untuk membina rumah tangga sering jadi bahan pembicaraan Dina dengan Tio sehingga Dina tak mudah melupakan sosok Tio. Tio memang tak terlihat indera penglihatannya, tetapi sosok Tio ada dalam ingatannya, dan Bros kupu-kupu adalah kenangan terakhir dari Tio.
Selesai menyantap bubur yang di berikan Aryo, Dina membaringkan badan di tempat tidur mungil miliknya. Dia menarik selimut sehingga tubuhnya tertutup oleh selimut, hanya kepalanya saja yang tidak tertutup oleh selimut. Dia ingin segera memejam, namun kantuk tak kunjung menghampiri indera penglihatannya. Jam dinding menunjukan pukul 10.00 malam namun kantuk tak bersahabat dengan indera penglihatan Dina saat itu. Di tengoknya bros kupu-kupu yang menempel di kemeja yang ia gantung di belakang pintu kamar. Sungguh bros itu selalu membawanya pada kenangan masa lalu bersama Tio. Kenangan yang terus menghantui pikirannya. Bahkan hantu sekali pun tak membuatnya ketakutan, hanya kenangan masa lalunya yang membuat ia merasa ketakutan. Lalu Dina pun terlelap.
Hari ini hari libur, namun Dina justru bangun lebih awal. Seperti biasa ia membereskan pekerjaan rumah. Karena ia anak yatim piatu maka ia mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri.
Jam dinding menunjukan pukul 10.00 pagi, suara klakson mobil terdengar oleh indera pendengaran Dina. Dina menengok ke jendela.
"Ah ku kira siapa, rupanya Aryo yang datang", ucap Dina dalam hatinya.
Dina pun membukakan pintu lalu Aryo masuk ke rumah Dina.
"Apa kamu siap untuk berlibur? Mukamu sudah kusam, sama kusamnya sepert rambut yang sudah berminggu-minggu tak di sampo", kata Aryo.
"Kamu ini berniat mengajakku liburan atau mau mengejekku?", jawab Dina sinis. "He.. he.. he.. Aku hanya bercanda Din, ayolah kita berlibur. Dari pada diam saja di rumah, duduk saja nonton tv, nanti kamu malah kena ambeyen lagi", ucap Aryo sambil bercanda.
"Sebentar, aku mandi dulu", Dina berlalu menuju kamarnya.
Mobil sport melaju dengan kencang, seiring jauhnya jarak yang di tempuh sehingga mobil sport itu tak tampak oleh mata yang memandang. Dalam perjalanan menuju Puncak Bogor, Dina hanya mematung saja. Dia tak punya selera untuk banyak bicara, pikirannya limbung memikirkan Tio. Aneh, sungguh aneh. Dia tak sedikit pun membenci Tio, padahal perlakuan Tio sangat menyakitinya.
"Sudahlah tak perlu memikirkan orang itu lagi, dia terlalu abstrak untuk kamu pikirkan", celetuk Aryo.
"Biarkan saja, ini masalah hati. Kamu tak akan pernah tau karena kamu tak tahu soal cinta", ucap Dina sinis.
"Apa aku harus tahu dulu tentang cinta baru aku harus bicara soal cinta? Cinta itu perlu logika Din, jangan kamu siksa lahir dan batinmu hanya untuk memikirkan dia yang belum tentu memikirkanmu. Tengoklah Din, ada aku di sini. Aku yang menyayangimu sejak pertama kali kita saling mengenal. Apa kamu tak sadar?", tanya Aryo.
"Sudahlah tak perlu membahas perasaanmu, aku tak mau tahu. Yang jelas, ketulusan takkan mudah untuk di lenyapkan", jawab Dina.
Memang sulit bicara dengan Dina, sosok perempuan yang keras kepala. Yang hanya mempedulikan perasaannya tanpa peduli terhadap perasaan orang lain.
Lagi dan lagi, mata Dina tertuju pada bros kupu-kupu. Bros kupu-kupu yang setia menemaninya, yang selalu dia bawa kemana pn dia pergi. Dari bros kupu-kupu itulah dia menemukan sosok Tio. Sosok abstrak yang tak pernah dia temukan lagi setelah dua tahun meninggalkannya.
Jam tangan Dina menunjukan pukul 15.30, Aryo dan Dina menuju villa tempat peristirahatan mereka. Lalu mereka berbaring di tempat tidur yang sama dan saling berpandangan.
"Aryo, apa sikapku selama ini salah?", tanya Dina.
"Sikapmu tak salah, namun perasaanmu itu salah. Harusnya kamu melupakannya agar kamu tak terus menerus menderita dengan perasaan tersebut. Kamu ingat pembicaraan bahwa cinta itu harus memakai logika. Memang perasaan itu penting, tetapi logika juga harus berjalan beriringan dengan perasaan. Dan bros kupu-kupu itu, kamu buang saja benda itu, benda yang selalu membuatmu teringat padanya. Kamu ingat lagi, bahwa cinta bukan tentang pemberian darinya karena percuma saja apabila pemberiannya membuatmu tersika seperti saat ini", jawab Aryo.
Dina menarik nafas panjang dan air mata pun jatuh tanpa Dina undang.
"Ingin aku melupakanmu Tio, melupakan semua kenangan bersamamu, melupakan khayalan-khayalan kita dahulu. Namun entahlah, ku rasa ini tak sanggup aku jalani", Dina bicara dalam hatinya.
Dina seperti mendengar ucapan dari sosok yang sama persis dengannya yang mengatakan,
"Apa kamu mau tersiksa hingga kamu tua? Ingat Dina, cinta bukan sekedar soal perasaan, bukan soal bersama, bukan soal kenangan. Tapi cinta juga soal logika, logika yang di pakai ketika seseorang mencintai pasangannya. Apa kamu mau di bodohi dengan perasaan? Di bodohi dengan janji-janji palsu yang mengatasnamakan cinta? Untuk apa kamu pertahankan perasaan yang membuatmu terluka. Untuk apa kamu pertahankan bros kupu-kupu itu jika hanya membuatmu mengingat Tio, orang yang meninggalkanmu dua tahun yang lalu".
Dina limbung, pikirannya kacau antara ketulusan cinta dan logika cinta yang harus beriringan bersama perasaannya.
Hampir 8 jam Dina tak memejamkan mata, dia hanya bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Dia bimbang harus melakukan apa. Bimbang antara mempertahankan ketulusannya dan berharap Tio akan kembali padanya. Berharap Tio memberikan hadiah setelah Tio memberikan bros kupu-kupu. Namun, saat itu kesadaran Dina berpihak padanya. Dia baru sadar, bahwa cinta takkan menyiksa. Bahwa cinta takkan membuatnya menderita, bahwa cinta harus diiringi dengan logika, bahwa cinta bukan karena kenyamanan. Namun soal perlakuan pasangan yang membuat dirinya merasa nyaman.
"Aryo, aku pamit pulang sendiri. Aku tak mau merepotkanmu lagi. Maaf jika aku menyakitimu", ucap Dina sambil berlalu tanpa ekspresi apa pun.
Aryo kebingungan, mengapa Dina meninggalkannya begitu saja. Dina resign dari kantor, Dina pindah rumah. Hingga Aryo tak dapat menemui Dina lagi. Aryo tak pernah tahu apakah perasaannya kepada Dina selama ini salah, kalau pun salah, Aryo tak tahu di mana letak kesalahannya.
Satu tahun berlalu tanpa perubahan, perubahan perasaan Aryo kepada Dina. Hingga pada sabtu sore setelah Aryo selesai bekerja. Dia sengaja ke toko buku untuk sekedar membeli novel, lalu dari sisi kirinya ada sosok perempuan dengan kemeja rapih dan tepat dengan lekatan bros kupu-kupu di kemejanya.
"Aryo, maafkan aku dulu meninggalkanmu. Aku tak tahu harus berbuat apa saat itu, yang jelas aku ingin melenyapkan rasa sakit dan rasa sayangku terhadap Tio", ucap Dina.
"Lalu saat ini perasaanmu bagaimana?", tanya Aryo.
"Aku takkan menyia-nyiakan ketulusan dari seseorang yang menyayangiku, karena aku sudah merasakan sakitnya ketika ketulusan tak di hargai. Dan bros kupu-kupu ini." jawab Dina.
Bros kupu-kupu itu Dina buang ke tong sampah yang ada di toko buku.







Untuk perempuan yang mempertahankan ketulusan.

Selasa, 27 Januari 2015

sejarah Desa Bayuning



Sejarah Bayuning tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Kuningan, karena dilihat dari daerahnya Desa Bayuning termasuk daerah kuningan, dan tidak jauh dari kota Kuningan hanya terlewati oleh pasir bungkirit saja. Jika pada 752 Masehi atau abad kedua puluh awal 8 di Kuningan sudah ada kerajaan, yang rajanya menjadi kekasih Seuweukarma, ia beragama Hindu, tentu Bayuning juga mencakup wilayah kerajaan Kuningan, yang rakyatnya memeluk agama Hindu. Di Bayuning saat ini, ada Senapati Artawiguna, yang dikenal sebagai Pangeran Bayuantara, istri Pangeran Andayasari atau Pangeran Bayuningsih. Istri dan suaminya hidup menyesuaikan diri. Menurut cerita, mereka juga dibagi wilayah masing-masing. Suaminya yaitu Pangeran Bayuantara sebelah timur, sedangkan istrinya adalah Bayuningsih sebelah Barat. Yang disebut wilayah timur adalah Cipulus, sekarang disebut Birit Dayeuh. Bekas garapan istrinya yaitu Pangeran Bayuningsih sebelah Barat pusatnya di keramat. Kampung Pahing sekarang disebut juga Bujal Dayeuh.
Di Bayuning, saat ini masih ada ciri yaitu batu dan pohon hanjuang dan kacapiring.
Bayuning mengambil nama dari Pangeran Bayuningsih. Nama Bayuning mengandung arti, yaitu bayu yang artinya angin dan ning mengambil dari kata bening. Desa Bayuning adalah desa yang bersih, desa yang terbebas dari polusi. Ada juga yang menyebutkan bahwa Bayuning adalah Banyuning yang artinya air yang bersih. Ini pun tidak salah, karena Bayuning kaya dengan air dari air ci nyusu. Dulu di ci nyusu atau Hulu Cai, tempatnya cukup menyeramkan. Karena banyak pohon-pohong besar yang menghadang orang-orang yang datang ke sana sehingga membuat tidak ada orang-orang yang datang ke sana. Padahal maksud bukan karena menyeramkan, tetapi maksud dari leluhur kita supaya kita bisa menjaga peninggalan sejarah yaitu Hulu Cai tersebut agar kita bisa tetap hidup dengan menggunakan air bersih.
Bayuning berada di daerah Keadipatian Kuningan. Dulu yang di utus diantaranya Eyang Dapur, Eyang Tapan makmnya di kebun kadu, Eyang Dalem Martanaya, Eyang Syukur Salim Makamnya di Cikalapa, Eyang Tubagus Pawenang makamyna di pasir, Eyang Marmagati makamnya di Munjul dan Eyang Jaksa makamnya di kebun pinang.
Tidak diceritakan bahwa Pangeran Andayasari dan Pangeran Bayuantara masuk islam atau tidak. Tetapi menurut cerita, setelah datang yang menyebarkan islam di desa Bayuning, Pangeran Bayuantara meneruskan penyebaran tersebut sampai ia meninggal di cipicung. Sedangkan Pangeran Andayasri, ia tetap tinggal di Bayuning hingga ia meninggal. Dalam menyebarkan agama islam di desa Bayuning memakai cara masing-masing sesuai dengan keahlian, ilmu dan kesaktian masing-masing.