Sejarah
Bayuning tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Kuningan, karena dilihat
dari daerahnya Desa Bayuning termasuk daerah kuningan, dan
tidak jauh dari kota Kuningan hanya
terlewati oleh pasir
bungkirit saja. Jika pada 752 Masehi atau abad kedua puluh awal
8 di Kuningan sudah ada kerajaan, yang rajanya menjadi kekasih
Seuweukarma, ia beragama Hindu, tentu Bayuning juga mencakup wilayah kerajaan Kuningan,
yang rakyatnya memeluk agama Hindu. Di
Bayuning saat ini, ada Senapati Artawiguna, yang dikenal sebagai
Pangeran Bayuantara, istri Pangeran Andayasari atau Pangeran Bayuningsih.
Istri dan suaminya
hidup menyesuaikan diri. Menurut cerita, mereka juga dibagi wilayah
masing-masing. Suaminya yaitu Pangeran Bayuantara sebelah timur, sedangkan istrinya adalah Bayuningsih
sebelah Barat. Yang disebut wilayah timur adalah Cipulus,
sekarang disebut Birit Dayeuh.
Bekas garapan istrinya yaitu Pangeran Bayuningsih sebelah Barat pusatnya di
keramat. Kampung Pahing sekarang disebut juga Bujal Dayeuh.
Di
Bayuning, saat ini masih ada ciri yaitu batu dan pohon hanjuang dan kacapiring.
Bayuning
mengambil nama dari Pangeran Bayuningsih. Nama Bayuning mengandung arti, yaitu
bayu yang artinya angin dan ning mengambil dari kata bening. Desa Bayuning adalah
desa yang bersih, desa yang terbebas dari polusi. Ada juga yang menyebutkan
bahwa Bayuning adalah Banyuning yang artinya air yang bersih. Ini pun tidak
salah, karena Bayuning kaya dengan air dari air ci nyusu. Dulu di ci nyusu atau
Hulu Cai, tempatnya cukup menyeramkan. Karena banyak pohon-pohong besar yang
menghadang orang-orang yang datang ke sana sehingga membuat tidak ada
orang-orang yang datang ke sana. Padahal maksud bukan karena menyeramkan,
tetapi maksud dari leluhur kita supaya kita bisa menjaga peninggalan sejarah
yaitu Hulu Cai tersebut agar kita bisa tetap hidup dengan menggunakan air
bersih.
Bayuning
berada di daerah Keadipatian Kuningan. Dulu yang di utus diantaranya Eyang
Dapur, Eyang Tapan makmnya di kebun kadu, Eyang Dalem Martanaya, Eyang
Syukur Salim Makamnya di Cikalapa, Eyang Tubagus Pawenang makamyna di pasir,
Eyang Marmagati makamnya di Munjul dan Eyang Jaksa makamnya di kebun pinang.
Tidak diceritakan bahwa
Pangeran Andayasari dan Pangeran Bayuantara masuk islam atau tidak. Tetapi
menurut cerita, setelah datang yang menyebarkan islam di desa Bayuning,
Pangeran Bayuantara meneruskan penyebaran tersebut sampai ia meninggal di
cipicung. Sedangkan Pangeran Andayasri, ia tetap tinggal di Bayuning hingga ia
meninggal. Dalam menyebarkan agama islam di desa Bayuning memakai cara
masing-masing sesuai dengan keahlian, ilmu dan kesaktian masing-masing.