Selasa, 27 Januari 2015

sejarah Desa Bayuning



Sejarah Bayuning tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Kuningan, karena dilihat dari daerahnya Desa Bayuning termasuk daerah kuningan, dan tidak jauh dari kota Kuningan hanya terlewati oleh pasir bungkirit saja. Jika pada 752 Masehi atau abad kedua puluh awal 8 di Kuningan sudah ada kerajaan, yang rajanya menjadi kekasih Seuweukarma, ia beragama Hindu, tentu Bayuning juga mencakup wilayah kerajaan Kuningan, yang rakyatnya memeluk agama Hindu. Di Bayuning saat ini, ada Senapati Artawiguna, yang dikenal sebagai Pangeran Bayuantara, istri Pangeran Andayasari atau Pangeran Bayuningsih. Istri dan suaminya hidup menyesuaikan diri. Menurut cerita, mereka juga dibagi wilayah masing-masing. Suaminya yaitu Pangeran Bayuantara sebelah timur, sedangkan istrinya adalah Bayuningsih sebelah Barat. Yang disebut wilayah timur adalah Cipulus, sekarang disebut Birit Dayeuh. Bekas garapan istrinya yaitu Pangeran Bayuningsih sebelah Barat pusatnya di keramat. Kampung Pahing sekarang disebut juga Bujal Dayeuh.
Di Bayuning, saat ini masih ada ciri yaitu batu dan pohon hanjuang dan kacapiring.
Bayuning mengambil nama dari Pangeran Bayuningsih. Nama Bayuning mengandung arti, yaitu bayu yang artinya angin dan ning mengambil dari kata bening. Desa Bayuning adalah desa yang bersih, desa yang terbebas dari polusi. Ada juga yang menyebutkan bahwa Bayuning adalah Banyuning yang artinya air yang bersih. Ini pun tidak salah, karena Bayuning kaya dengan air dari air ci nyusu. Dulu di ci nyusu atau Hulu Cai, tempatnya cukup menyeramkan. Karena banyak pohon-pohong besar yang menghadang orang-orang yang datang ke sana sehingga membuat tidak ada orang-orang yang datang ke sana. Padahal maksud bukan karena menyeramkan, tetapi maksud dari leluhur kita supaya kita bisa menjaga peninggalan sejarah yaitu Hulu Cai tersebut agar kita bisa tetap hidup dengan menggunakan air bersih.
Bayuning berada di daerah Keadipatian Kuningan. Dulu yang di utus diantaranya Eyang Dapur, Eyang Tapan makmnya di kebun kadu, Eyang Dalem Martanaya, Eyang Syukur Salim Makamnya di Cikalapa, Eyang Tubagus Pawenang makamyna di pasir, Eyang Marmagati makamnya di Munjul dan Eyang Jaksa makamnya di kebun pinang.
Tidak diceritakan bahwa Pangeran Andayasari dan Pangeran Bayuantara masuk islam atau tidak. Tetapi menurut cerita, setelah datang yang menyebarkan islam di desa Bayuning, Pangeran Bayuantara meneruskan penyebaran tersebut sampai ia meninggal di cipicung. Sedangkan Pangeran Andayasri, ia tetap tinggal di Bayuning hingga ia meninggal. Dalam menyebarkan agama islam di desa Bayuning memakai cara masing-masing sesuai dengan keahlian, ilmu dan kesaktian masing-masing.

sejarah Desa Bayuning



Sejarah Bayuning tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Kuningan, karena dilihat dari daerahnya Desa Bayuning termasuk daerah kuningan, dan tidak jauh dari kota Kuningan hanya terlewati oleh pasir bungkirit saja. Jika pada 752 Masehi atau abad kedua puluh awal 8 di Kuningan sudah ada kerajaan, yang rajanya menjadi kekasih Seuweukarma, ia beragama Hindu, tentu Bayuning juga mencakup wilayah kerajaan Kuningan, yang rakyatnya memeluk agama Hindu. Di Bayuning saat ini, ada Senapati Artawiguna, yang dikenal sebagai Pangeran Bayuantara, istri Pangeran Andayasari atau Pangeran Bayuningsih. Istri dan suaminya hidup menyesuaikan diri. Menurut cerita, mereka juga dibagi wilayah masing-masing. Suaminya yaitu Pangeran Bayuantara sebelah timur, sedangkan istrinya adalah Bayuningsih sebelah Barat. Yang disebut wilayah timur adalah Cipulus, sekarang disebut Birit Dayeuh. Bekas garapan istrinya yaitu Pangeran Bayuningsih sebelah Barat pusatnya di keramat. Kampung Pahing sekarang disebut juga Bujal Dayeuh.
Di Bayuning, saat ini masih ada ciri yaitu batu dan pohon hanjuang dan kacapiring.
Bayuning mengambil nama dari Pangeran Bayuningsih. Nama Bayuning mengandung arti, yaitu bayu yang artinya angin dan ning mengambil dari kata bening. Desa Bayuning adalah desa yang bersih, desa yang terbebas dari polusi. Ada juga yang menyebutkan bahwa Bayuning adalah Banyuning yang artinya air yang bersih. Ini pun tidak salah, karena Bayuning kaya dengan air dari air ci nyusu. Dulu di ci nyusu atau Hulu Cai, tempatnya cukup menyeramkan. Karena banyak pohon-pohong besar yang menghadang orang-orang yang datang ke sana sehingga membuat tidak ada orang-orang yang datang ke sana. Padahal maksud bukan karena menyeramkan, tetapi maksud dari leluhur kita supaya kita bisa menjaga peninggalan sejarah yaitu Hulu Cai tersebut agar kita bisa tetap hidup dengan menggunakan air bersih.
Bayuning berada di daerah Keadipatian Kuningan. Dulu yang di utus diantaranya Eyang Dapur, Eyang Tapan makmnya di kebun kadu, Eyang Dalem Martanaya, Eyang Syukur Salim Makamnya di Cikalapa, Eyang Tubagus Pawenang makamyna di pasir, Eyang Marmagati makamnya di Munjul dan Eyang Jaksa makamnya di kebun pinang.
Tidak diceritakan bahwa Pangeran Andayasari dan Pangeran Bayuantara masuk islam atau tidak. Tetapi menurut cerita, setelah datang yang menyebarkan islam di desa Bayuning, Pangeran Bayuantara meneruskan penyebaran tersebut sampai ia meninggal di cipicung. Sedangkan Pangeran Andayasri, ia tetap tinggal di Bayuning hingga ia meninggal. Dalam menyebarkan agama islam di desa Bayuning memakai cara masing-masing sesuai dengan keahlian, ilmu dan kesaktian masing-masing.